"Syukron jazakumullah kepada para pengurus dan asatidz yang telah membina kami di ma'had." (Choirul Anwar, S.Pd.I) • "Tempat belajar mengenal Manhaj Ahlussunah sesuai Al-Qur'an dan As-Sunnah." (Apud Saputra, S.Th.I., S.Pd.I., M.Pd) • "Program kaderisasi dai Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang luar biasa." (Dr. Sujian Suretno, S.Th.I., M.M) • "Alhamdulillah mendapatkan banyak ilmu yang bermanfaat." (Dr. Solahudin, Lc., MA.Hum) • "Teruslah belajar dan menebar manfaat." (Dr. Unang Wahidin, M.Pd.I) • "Program sangat bagus dan melatih dakwah di tengah masyarakat." (Deni Rahmad, S.Pd.I) • "Alumni perlu forum keluarga besar dan silaturahmi." (Dr. M. Hidayat Ginanjar, M.Pd.I) • "Banyak tambahan ilmu dan wawasan dakwah selama belajar di ma'had." (Miftahun Nailil Murod, Lc) •
Artikel Islami

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Mengenal kemuliaan bulan Dzulhijjah dan berbagai amalan sholih yang dianjurkan untuk dikerjakan pada sepuluh hari pertamanya.

Beasiswa Pendidikan Islam Pembinaan Islam
Ilustrasi suasana Dzulhijjah dan ibadah di tanah Arab
Mengisi sepuluh hari pertama Dzulhijjah dengan amal sholih dan ketaatan kepada Alloh.

Bulan Dzulhijjah memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Sepuluh hari pertamanya merupakan kesempatan untuk memperbanyak amal sholih, ibadah, dzikir, dan ketaatan kepada Alloh Ta’ala.

1. Bulan Dzulhijjah Termasuk Bulan yang Dimuliakan

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Alloh Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ٣٦

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Alloh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”

QS. At-Taubah: 36

Ibnu Abbas berkata bahwa Alloh mengkhususkan empat bulan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharrom, dan Rojab. Bulan-bulan tersebut dijadikan bulan yang suci dan diagungkan. Dosa di dalamnya juga dianggap besar, sebagaimana amal sholih dan balasannya menjadi lebih besar.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ

“Sesungguhnya waktu itu berputar sebagaimana keadaannya ketika Alloh menciptakan langit dan bumi. Setahun ada 12 bulan. Di antara bulan-bulan tersebut ada 4 bulan yang haram, tiga bulan berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Al-Muharrom, dan Rojab Mudhar.”

HR. Abu Dawud, no. 1947

2. Amal Sholih pada Sepuluh Hari Pertama Sangat Utama

Amalan yang dikerjakan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan amalan yang sangat dicintai Alloh dan besar pahalanya. Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ، يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ

“Tidak ada satu amal sholih yang lebih dicintai oleh Alloh melebihi amal sholih yang dilakukan pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”

HR. Abu Dawud no. 2438, At-Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu Abbas. Syaikh Al-Albani menilai hadis ini shohih.

Para sahabat bertanya apakah jihad di jalan Alloh juga tidak dapat menyamai keutamaan tersebut. Nabi menjelaskan pengecualian bagi seseorang yang berangkat dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali membawa apa pun.

Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan keutamaan amal pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan tidak menyebutkan pengecualian bagi jenis amal sholih.

Lathoif Al-Ma’arif, hal. 456

3. Amalan yang Dianjurkan pada Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah

A. Puasa Sunnah pada Sembilan Hari Pertama

Puasa sunnah dianjurkan pada tanggal 1–9 Dzulhijjah. Puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah, yaitu hari Arafah, mendapatkan penekanan khusus dalam naskah sumber.

Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

“Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), dan berpuasa tiga hari setiap bulannya (Hijriyah).”

HR. Abu Dawud no. 2437. Syaikh Al-Albani mengatakan hadis ini shohih.

Di antara sahabat yang mempraktikkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijjah adalah Abdulloh bin Umar. Ulama seperti Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Naskah sumber menyebutkan bahwa ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

Dari Abu Qotadah, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang.”

HR. Muslim, no. 1162

B. Menunaikan Ibadah Haji

Ibadah haji merupakan salah satu amalan yang disebutkan dalam naskah sumber. Dari Aisyah, Ummul Mukminin, Rodhiyallohu ‘anha, ia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ، أَفَلَا نُجَاهِدُ؟ قَالَ: لَا، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ

“Wahai Rosululloh, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” Beliau menjawab, “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur.”

HR. Bukhari, no. 1520

Dari Abu Hurairoh, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.”

HR. Bukhari, no. 1773 dan Muslim, no. 1349

C. Menunaikan Ibadah Umroh

Dari Abdulloh bin Mas’ud, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Ikutkanlah umroh kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.”

HR. An-Nasai no. 2631, At-Tirmidzi no. 810, dan Ahmad 1/387. Naskah sumber menyebutkan penilaian hasan shohih dari Syaikh Al-Albani.

Dari Ibnu Umar, Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْغَازِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ

“Orang yang berperang di jalan Alloh, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Alloh. Alloh memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Alloh pasti akan Alloh beri.”

HR. Ibnu Majah, no. 2893. Naskah sumber menyebutkan penilaian hasan dari Syaikh Al-Albani.

D. Memperbanyak Tahlil, Tahmid, Tasbih, dan Takbir

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّكْبِيرِ

“Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Alloh untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir, dan tahmid.”

HR. At-Thobroni 11/82, no. 11116 dan Al-Baihaqi, no. 3758

E. Berqurban pada Hari Raya Idul Adha

Atha bin Yasar bertanya kepada Abu Ayyub Al-Anshari tentang penyembelihan qurban pada zaman Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Beliau menjawab:

كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ، فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ حَتَّى تَبَاهَى النَّاسُ فَصَارَتْ كَمَا تَرَى

“Seseorang berqurban dengan seekor kambing untuk diri dan keluarganya. Kemudian mereka memakannya dan memberi makan orang-orang sampai mereka berbangga. Maka jadilah seperti yang engkau lihat.”

HR. At-Tirmidzi, no. 1505 dan Ibnu Majah, no. 3147. Naskah sumber menyebutkan penilaian shohih dari Syaikh Al-Albani.

F. Memperbanyak Amal Sholih dan Ketaatan

Amal sholih yang dapat diperbanyak di antaranya:

  • Memperbanyak sholat-sholat sunnah.
  • Bersedekah dan berbakti kepada kedua orang tua.
  • Menyambung tali kekerabatan.
  • Memperbanyak dzikir dan takbir kepada Alloh.
  • Membaca Al-Qur’an.
  • Memperbanyak berbagai amal sholih lainnya.

Dari Ibnu Abbas Rodhiyallohu ‘anhu, disebutkan bahwa Sa’id bin Jubair sangat bersungguh-sungguh dalam beramal ketika memasuki sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

كَانَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ إِذَا دَخَلَ أَيَّامُ الْعَشْرِ اجْتَهَدَ اجْتِهَادًا شَدِيدًا حَتَّى مَا يَكَادُ يَقْدِرُ عَلَيْهِ

“Bahwa Sa’id bin Jubair jika memasuki sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, ia sangat bersungguh-sungguh sampai-sampai dia hampir tidak mampu melakukannya.”

HR. Ad-Darimi (II/26), sebagaimana dicantumkan dalam naskah sumber

G. Bertaubat dan Meninggalkan Maksiat

Alloh berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ٨

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Alloh dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Robb kalian akan menutupi kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

QS. At-Tahrim: 8

Alloh juga berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ٥٣

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”

QS. Az-Zumar: 53

Sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri dan memperbanyak ketaatan. Mari isi hari-hari tersebut dengan puasa sunnah, dzikir, membaca Al-Qur’an, sedekah, qurban, taubat, dan berbagai amal sholih lainnya.