Beasiswa Pendidikan Islam

Kampus Riyadhussholihin

Kampus Riyadhus Sholihin Kampus yang terletak di Jl. Cibeber km 11, Cipeutey Condong, Kec Cibeber, Kab. Cianjur  Jawa Barat

Kampus Takrimul Qur’an

Kampus Takrimul Qur’an Kampus yang terletak di Kp Kp. Pasir Muncang, Sukamanah, Kec. Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat di bagian sebelah selatan dari wilayah Kota Bogor. Lokasinya berada dekat dengan Cisarua Bogor atau lebih terkenal dengan puncak bogor

Kampus Huda Islami Putri

Kampus Huda Islami Putri Kampus yang terletak di Kp Cimaglid Tamansari Bogor  di bagian sebelah Selatan dari wilayah Kota Bogor. Lokasinya berada dekat dengan Yayasan Islam Al-Huda Kecamatan Tamansari Bogor Jawa Barat,  Kaki Gunung Salak

Kampus Huda Islami

Kampus Huda Islami Kampus yang terletak di Kp Cimaglid Tamansari Bogor  di bagian sebelah Selatan dari wilayah Kota Bogor. Lokasinya berada dekat dengan Yayasan Islam Al-Huda Kecamatan Tamansari Bogor Jawa Barat,  Kaki Gunung Salak

Kisah Dalam Hadis ke-4

Amanah dan Kejujuran dalam Perang: Pelajaran dari Kisah Nabi Umat Terdahulu Islam menempatkan amanah dan kejujuran sebagai prinsip utama dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam kondisi perang. Salah satu kisah yang sarat pelajaran tentang amanah, ketaatan, dan rahmat Allah ﷻ adalah kisah seorang nabi dari umat terdahulu yang akan berangkat berperang, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits shahih Rasulullah ﷺ. Kisah ini mengajarkan bahwa kemenangan tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi oleh ketaatan kepada perintah Allah dan bersihnya hati dari pengkhianatan. Dikisahkan, seorang nabi dari umat terdahulu hendak berangkat memimpin peperangan. Sebelum berangkat, ia memberikan arahan kepada kaumnya agar tidak ikut bersamanya orang-orang yang masih terikat kuat dengan urusan dunia. Ia berkata agar tidak ikut berperang seseorang yang baru menikah dan belum menggauli istrinya, orang yang sedang membangun rumah namun belum menyelesaikannya, serta orang yang memiliki hewan ternak yang sedang bunting dan menantikan kelahirannya. Hal ini menunjukkan pentingnya kesiapan hati dan fokus total dalam menjalankan perintah Allah. Nabi tersebut pun berangkat berperang. Ketika pasukannya telah mendekati negeri yang akan diperangi, waktu shalat Ashar pun tiba. Dalam kondisi tersebut, Nabi itu berdoa kepada Allah agar menahan peredaran matahari hingga peperangan diselesaikan. Dengan izin Allah ﷻ, matahari pun tertahan hingga Allah memberikan kemenangan kepada Nabi tersebut dan pasukannya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa alam semesta tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah dan menjadi saksi ketaatan para nabi-Nya. Setelah kemenangan diraih, Nabi itu mengumpulkan harta rampasan perang. Pada umat-umat terdahulu, harta rampasan perang tidak boleh dimiliki, melainkan akan dihanguskan oleh api yang turun dari langit sebagai tanda diterimanya amal jihad mereka. Namun pada saat itu, api yang datang tidak mampu menghanguskan harta rampasan tersebut. Nabi itu pun menyadari bahwa telah terjadi pengkhianatan di antara kaumnya. Beliau berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya di antara kalian ada yang berkhianat dengan mengambil harta rampasan perang.” Lalu beliau memerintahkan agar setiap pemimpin suku berbaiat kepadanya. Ketika salah satu pemimpin suku berjabat tangan, tangannya melekat dan tidak dapat dilepaskan. Nabi itu pun berkata bahwa di dalam suku tersebut terdapat pelaku pengkhianatan. Setelah seluruh anggota suku tersebut dibaiat, diketahui bahwa dua atau tiga orang telah mencuri harta rampasan perang. Mereka pun menyerahkan harta curian tersebut berupa emas sebesar kepala sapi dan meletakkannya di hadapan Nabi mereka. Setelah itu, api pun datang dan menghanguskan seluruh harta rampasan perang tersebut. Kisah ini diriwayatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits shahih: «غَزَا نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ فَقَالَ لِقَوْمِهِ: لَا يَتْبَعْنِي رَجُلٌ مَلَكَ بُضْعَ امْرَأَةٍ وَلَمْ يَبْنِ بِهَا…»(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Di akhir kisah ini, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah ﷻ kemudian menghalalkan harta rampasan perang (ghanimah) bagi umat Nabi Muhammad ﷺ sebagai bentuk rahmat dan kemuliaan khusus bagi umat ini. Rasulullah ﷺ bersabda: «أُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي»“Dihalalkan bagiku harta rampasan perang, dan tidak dihalalkan bagi seorang pun sebelumku.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Kisah ini memberikan pelajaran penting bagi umat Islam, khususnya bagi mahasiswa dan santri penerima Beasiswa Pendidikan Islam, bahwa amanah dan kejujuran merupakan syarat utama turunnya pertolongan Allah. Pengkhianatan sekecil apa pun dapat menghalangi keberkahan dan pertolongan-Nya. Sebaliknya, ketaatan dan kejujuran akan mendatangkan rahmat dan kemudahan, sebagaimana Allah ﷻ telah melimpahkan rahmat-Nya kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Semoga kajian ini menumbuhkan kesadaran untuk selalu menjaga amanah, menjauhi pengkhianatan, dan meneladani ketaatan para nabi dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam menuntut ilmu, berorganisasi, maupun dalam pengabdian kepada umat dan agama.

Kisah Dalam Hadis ke-3

Sabar Dalam Islam Dalam perjalanan sejarah umat terdahulu, terdapat banyak kisah yang menunjukkan bagaimana iman, tauhid, dan kebenaran akan selalu diuji. Salah satu kisah yang agung dan penuh pelajaran adalah kisah seorang pemuda beriman di masa seorang raja zalim, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits shahih Rasulullah ﷺ. Kisah ini menggambarkan bagaimana Allah ﷻ menolong hamba-Nya yang beriman, sekaligus membuka pintu hidayah dan taubat bagi manusia melalui pengorbanan orang-orang shalih. Dikisahkan, pada zaman dahulu ada seorang raja yang memiliki seorang tukang sihir sebagai penasihat. Ketika tukang sihir itu telah lanjut usia, ia meminta agar disiapkan seorang pemuda untuk menjadi penerusnya. Pemuda tersebut pun mulai belajar sihir darinya. Namun, dalam perjalanannya menuju tempat tukang sihir, ia bertemu dengan seorang ahli ibadah yang berilmu dan lurus aqidahnya. Pemuda itu pun tertarik dan mulai belajar agama darinya, hingga ia memperoleh cahaya iman dan tauhid. Suatu hari, pemuda itu menyaksikan seekor binatang buas yang menghalangi jalan manusia. Ia pun berdoa, “Ya Allah, jika ahli ibadah itu lebih Engkau cintai daripada tukang sihir, maka binasakanlah binatang ini agar manusia dapat lewat.” Dengan izin Allah, batu yang ia lemparkan berhasil membunuh binatang buas tersebut. Peristiwa itu menjadi tanda kebenaran iman dan doa yang ikhlas. Ahli ibadah itu pun berkata, “Wahai anakku, engkau hari ini telah lebih utama dariku. Namun, ketahuilah, engkau akan menghadapi ujian yang berat. Jika engkau diuji, janganlah engkau menunjukkan keberadaanku.” Nasihat ini menjadi isyarat bahwa jalan kebenaran tidak pernah lepas dari ujian. Dengan izin Allah ﷻ, pemuda itu kemudian diberi kemampuan untuk menyembuhkan orang buta dan berbagai penyakit. Ketika seorang sahabat raja yang buta mendatanginya meminta kesembuhan, pemuda itu menegaskan bahwa kesembuhan bukan berasal darinya, melainkan dari Allah semata. Ia berkata, “Jika engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada-Nya agar engkau disembuhkan.” Orang itu pun beriman, dan Allah menyembuhkannya. Ketika raja mengetahui hal tersebut, ia murka dan berkata, “Siapa yang menyembuhkanmu?” Orang itu menjawab dengan tegas, “Tuhanku.” Raja berkata, “Apakah engkau memiliki tuhan selain aku?” Ia menjawab, “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Raja pun menyiksanya hingga akhirnya ia menunjukkan keberadaan pemuda tersebut. Pemuda itu ditangkap dan disiksa. Raja berkata, “Engkau bisa menyembuhkan orang buta dan berbagai penyakit dengan sihirmu.” Pemuda itu menjawab, “Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah.” Raja semakin murka dan memaksa pemuda itu menunjukkan keberadaan ahli ibadah. Ketika ahli ibadah itu ditangkap dan diminta meninggalkan agamanya, ia menolak, lalu raja membunuhnya dengan kejam. Demikian pula sahabat raja yang telah beriman. Setelah itu, pemuda tersebut kembali dipaksa meninggalkan agamanya. Namun ia tetap teguh. Raja memerintahkan agar pemuda itu dibawa ke puncak gunung dan dilemparkan jika tidak mau meninggalkan imannya. Pemuda itu berdoa, “Ya Allah, lindungilah aku dari kejahatan mereka sesuai kehendak-Mu.” Maka gunung berguncang dan para prajurit raja binasa, sementara pemuda itu selamat. Hal yang sama terjadi ketika ia dibawa ke tengah laut; Allah menyelamatkannya dan menenggelamkan para prajurit. Akhirnya pemuda itu berkata kepada raja, “Engkau tidak akan mampu membunuhku hingga engkau melakukan apa yang aku perintahkan.” Ia meminta agar raja mengumpulkan seluruh rakyat, mengikatnya di sebuah batang pohon, lalu mengambil anak panah dan mengucapkan, “Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.” Raja pun melakukannya. Anak panah tersebut menancap di pelipis pemuda itu hingga ia wafat. Melihat peristiwa tersebut, orang-orang pun berkata, “Kami beriman kepada Tuhan pemuda itu.” Keimanan itu membuat raja semakin murka hingga ia memerintahkan dibuatkan parit-parit berisi api untuk membakar orang-orang yang beriman. Kisah ini diriwayatkan dalam hadits shahih Rasulullah ﷺ: «كَانَ مَلِكٌ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، وَكَانَ لَهُ سَاحِرٌ…»(HR. Muslim) Allah ﷻ mengabadikan peristiwa tragis ini dalam Al-Qur’an: قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ ۝ النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ“Binasalah orang-orang yang membuat parit, (yaitu) api yang penuh dengan bahan bakar.”(QS. Al-Burūj: 4–5) Kisah ini mengajarkan bahwa jalan iman dan taubat sering kali diiringi dengan ujian berat. Namun, keteguhan tauhid, kejujuran dalam iman, dan pengorbanan di jalan Allah ﷻ dapat menjadi sebab tersebarnya hidayah bagi banyak orang. Bagi mahasiswa, santri, dan seluruh penerima manfaat Beasiswa Pendidikan Islam, kisah ini menjadi pengingat bahwa menuntut ilmu, menjaga aqidah, dan istiqamah dalam kebenaran adalah bagian dari perjuangan yang bernilai tinggi di sisi Allah. Semoga kisah ini menguatkan iman, menumbuhkan keberanian dalam memegang kebenaran, serta mendorong setiap jiwa untuk selalu kembali kepada Allah ﷻ dengan taubat yang tulus dan keyakinan yang kokoh.

Kisah Dalam Hadits ke-2

Luasnya Ampunan Allah dan Keutamaan Ilmu: Pelajaran dari Kisah Pembunuh Seratus Jiwa Islam adalah agama rahmat yang membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi setiap hamba yang ingin kembali kepada Allah ﷻ dengan taubat yang sungguh-sungguh. Salah satu kisah yang paling menyentuh dan sarat pelajaran tentang taubat, hijrah, serta pentingnya ilmu adalah kisah seorang laki-laki yang telah membunuh seratus jiwa, sebagaimana diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah ﷺ. Dikisahkan, pada zaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Hatinya kemudian tersentuh untuk bertaubat, lalu ia mencari orang yang dianggap berilmu untuk menanyakan apakah masih ada kesempatan baginya untuk kembali kepada Allah. Ia pun ditunjukkan kepada seorang ahli ibadah (rahib) yang dikenal rajin beribadah, namun minim ilmu. Kepada rahib tersebut, laki-laki itu mengakui perbuatannya dan bertanya, “Apakah masih ada taubat bagiku?” Sang rahib menjawab dengan tergesa-gesa, “Tidak. Taubatmu tidak akan diterima.” Mendengar jawaban tersebut, laki-laki itu semakin gelap hatinya dan akhirnya membunuh sang rahib, sehingga genaplah seratus orang yang telah ia bunuh. Setelah itu, ia kembali mencari seseorang yang benar-benar berilmu. Hingga akhirnya ia ditunjukkan kepada seorang alim yang memiliki pemahaman agama yang lurus. Kepadanya, laki-laki itu berkata, “Aku telah membunuh seratus orang. Apakah masih ada taubat bagiku?” Orang alim tersebut menjawab dengan penuh hikmah, “Ya, taubatmu akan diterima. Tidak ada satu pun penghalang antara dirimu dan taubat.” Namun sang alim menambahkan nasihat penting, “Pergilah engkau ke negeri tertentu, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah. Beribadahlah engkau bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu yang dahulu, karena negeri itu adalah lingkungan yang buruk.” Laki-laki itu pun berangkat untuk berhijrah menuju negeri yang ditunjukkan. Namun, dengan izin Allah ﷻ, ia meninggal dunia di tengah perjalanan sebelum sampai ke tempat tujuannya. Ketika ruhnya hendak dicabut, datanglah malaikat rahmat dan malaikat azab. Keduanya pun saling berbantahan. Malaikat rahmat berkata, “Ia telah datang dengan hati yang bertaubat dan berniat hijrah menuju negeri yang baik.” Malaikat azab berkata, “Namun ia belum melakukan satu amal kebaikan pun.” Kemudian Allah ﷻ mengutus seorang malaikat untuk menjadi penengah. Malaikat itu berkata, “Ukurlah jarak antara tempat ia meninggal dengan negeri asalnya dan dengan negeri tujuannya. Kepada yang lebih dekat, maka ia termasuk penghuninya.” Setelah diukur, ternyata jarak tempat meninggalnya lebih dekat ke negeri tujuan hijrahnya. Maka diputuskanlah bahwa ruhnya diserahkan kepada malaikat rahmat. Kisah agung ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda: «كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ…»(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Hadits ini menunjukkan betapa luasnya rahmat dan ampunan Allah ﷻ bagi hamba-Nya yang benar-benar ingin bertaubat. Allah ﷻ berfirman: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”(QS. Az-Zumar: 53) Kisah ini juga memberikan pelajaran penting tentang keutamaan ilmu dan bahaya berfatwa tanpa ilmu. Seorang ahli ibadah yang tidak dibekali ilmu dapat terjatuh pada kesalahan fatal, bahkan menyesatkan orang lain. Sebaliknya, seorang alim yang berilmu mampu membuka pintu harapan, membimbing taubat, dan menunjukkan jalan hijrah yang benar. Bagi mahasiswa, santri, dan seluruh penerima manfaat Beasiswa Pendidikan Islam, kisah ini menjadi pengingat bahwa menuntut ilmu adalah bagian penting dari ibadah. Ilmu membimbing amal, dan amal tanpa ilmu dapat menjerumuskan. Selain itu, kisah ini menegaskan bahwa siapa pun yang bertaubat dengan sungguh-sungguh dan berhijrah karena Allah, maka Allah ﷻ akan menyambutnya dengan rahmat dan ampunan yang luas. Semoga kajian ini menumbuhkan optimisme dalam bertaubat, kesungguhan dalam berhijrah menuju kebaikan, serta semangat untuk terus menuntut ilmu sebagai bekal menggapai ridho Allah ﷻ.

Kisah Dalam Hadis ke-1

Keteladanan Tawassul dengan Amal Shalih: Pelajaran Iman dari Kisah Tiga Orang di Dalam Gua Islam mengajarkan bahwa setiap kesulitan yang dialami seorang hamba tidak terlepas dari ujian keimanan dan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Pertolongan Allah akan datang kepada hamba-Nya yang bertakwa, bersabar, serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan beramal shalih dengan penuh keikhlasan. Salah satu kisah yang sarat akan pelajaran iman dan akhlak adalah kisah tiga orang yang terperangkap di dalam gua, sebagaimana diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah ﷺ. Dikisahkan, tiga orang laki-laki melakukan perjalanan hingga akhirnya mereka berteduh di sebuah gua. Tanpa diduga, sebuah batu besar jatuh dan menutup pintu gua tersebut, sehingga mereka tidak mampu keluar. Dalam kondisi yang sangat genting itu, salah seorang dari mereka mengajak dua temannya untuk mengingat amal shalih terbaik yang pernah mereka lakukan dengan penuh keikhlasan, kemudian menjadikannya sebagai wasilah dalam berdoa kepada Allah ﷻ agar diberikan jalan keluar. Orang pertama bertawasul dengan amal baktinya kepada kedua orang tua. Ia mengisahkan bahwa setiap kali pulang dari menggembala ternak, ia selalu memerah susu dan mendahulukan kedua orang tuanya sebelum diberikan kepada istri dan anak-anaknya. Pada suatu hari, ia mendapati kedua orang tuanya tertidur lelap, sementara anak-anaknya menangis karena kelaparan. Ia memilih menunggu hingga orang tuanya bangun tanpa membangunkan mereka dan tanpa mendahulukan anak-anaknya. Dengan penuh keikhlasan, ia berdoa kepada Allah ﷻ agar amal tersebut menjadi sebab dibukanya jalan keluar. Atas izin Allah, batu penutup gua pun bergeser sedikit. Orang kedua kemudian bertawasul dengan amal meninggalkan perbuatan maksiat karena takut kepada Allah. Ia menceritakan bahwa ia pernah memiliki kesempatan untuk berbuat zina dengan seorang wanita yang sangat ia cintai. Namun, ketika wanita tersebut mengingatkannya agar bertakwa kepada Allah dan tidak melanggar batasan syariat, ia segera mengurungkan niat dan meninggalkan perbuatan tersebut, meskipun ia mampu melakukannya. Dengan penuh ketundukan, ia memohon agar keikhlasannya dalam menjaga diri dari maksiat menjadi sebab datangnya pertolongan Allah. Maka batu itu kembali bergeser, meskipun gua belum sepenuhnya terbuka. Orang ketiga bertawasul dengan amal menjaga amanah dan menunaikan hak orang lain. Ia mengisahkan bahwa dahulu ia pernah menunda pemberian upah kepada seorang pekerja. Upah tersebut kemudian ia kelola hingga berkembang menjadi harta yang besar. Ketika pekerja itu datang menagih haknya, ia menyerahkan seluruh harta tersebut tanpa mengurangi sedikit pun. Ia pun berdoa kepada Allah ﷻ agar kejujurannya dalam menunaikan hak orang lain menjadi sebab dibukanya sisa pintu gua. Dengan izin Allah, batu besar itu pun terbuka sepenuhnya dan ketiganya berhasil keluar dengan selamat. Kisah ini diriwayatkan secara shahih oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda: «انْطَلَقَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَتَّى آوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ، فَدَخَلُوهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ، فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ…»(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Hadits ini menjadi dalil yang jelas tentang disyariatkannya bertawasul kepada Allah dengan amal shalih yang dilakukan secara ikhlas. Hal ini sejalan dengan firman Allah ﷻ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya.”(QS. Al-Mā’idah: 35) Selain bertawasul dengan amal shalih, Islam juga mengajarkan untuk berdoa dengan menyebut nama dan sifat Allah yang Maha Indah. Allah ﷻ berfirman: وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا“Dan Allah memiliki nama-nama yang paling indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama tersebut.”(QS. Al-A‘rāf: 180) Melalui kisah ini, mahasiswa, santri, dan seluruh penerima manfaat Beasiswa Pendidikan Islam diajak untuk meneladani nilai-nilai keikhlasan, bakti kepada orang tua, menjaga amanah, serta menjauhi maksiat dalam setiap keadaan. Amal shalih yang dilakukan dengan niat yang lurus bukan hanya menjadi bekal di akhirat, tetapi juga dapat menjadi sebab datangnya pertolongan Allah ﷻ di dunia, khususnya di saat menghadapi ujian dan kesulitan dalam menuntut ilmu dan menjalani kehidupan. Semoga kajian ini menjadi penguat iman serta motivasi untuk terus memperbaiki niat, menjaga akhlak, dan memperbanyak amal shalih dalam setiap langkah perjuangan di jalan Allah. Kisah Lainnya

Class Meeting Santri Ma’had Huda Islami meriahkan Liga Futsal dan Voli

Bogor /10/12 Desember 2025. Selama tiga hari terakhir, suasana Ma’had Huda Islami dipenuhi dengan ragam aktivitas mahasiswa yang padat namun penuh makna. Dimulai dari aksi kemanusiaan di jalanan, berlanjut pada serangkaian class meeting, hingga turnamen olahraga antar-asrama yang berlangsung meriah, seluruh kegiatan ini menggabungkan kepedulian sosial, kebersamaan, dan penyegaran di tengah rutinitas belajar yang melelahkan. Setelah Kegiatan 10–11 Desember 2025, mahasiswa Ma’had Huda Islami Bogor bergerak bersama menggelar aksi penggalangan donasi untuk korban banjir di Sumatra. Mereka turun langsung ke sejumlah titik keramaian di Bogor, membawa poster, melakukan orasi kemanusiaan, dan mengajak para pengguna jalan untuk ikut membantu saudara-saudara terdampak banjir.Meskipun dibawah terik matahari yang terik dan menghadapi arus lalu lintas yang padat, semangat mahasiswa tidak Surut. Masyarakat pun memberikan respons positif dengan ikut menyumbang secara langsung di lokasi aksi. Kegiatan berlanjut dengan class meeting selama 12 Desember 2025 yang dirancang untuk mengurangi kejenuhan mahasiswa setelah menjalani agenda belajar yang padat.Berbagai lomba edukatif, permainan kreatif, hingga aktivitas kebersamaan mengisi seluruh rangkaian kegiatan ini. Mahasiswa terlihat antusias mengikuti setiap agenda, sekaligus menguatkan ukhuwah antar-kamar dan antar-unit. Turnamen Liga Futsal dan Voli: Meriah, Penuh Sportivitas, dan MenegangkanSuasana semakin meriah ketika Liga Futsal dan Turnamen Voli digelar antar-asrama. Pertandingan berlangsung ketat dan penuh semangat kompetisi yang sehat.Dalam laga futsal, beberapa momen dramatis turut mewarnai jalannya pertandingan—mulai dari adu strategi yang sengit, penyelamatan gemilang dari penjaga gawang, hingga insiden beberapa pemain terjatuh dan mengalami cedera ringan akibat semangat bermain yang tinggi. Meski begitu, panitia dan rekan-rekan lain sigap memberikan pertolongan, dan pertandingan dapat dilanjutkan dengan aman. Sorakan supporter dari pinggir lapangan membuat suasana semakin hidup dan penuh energi. Setiap tim menunjukkan kerja sama, emosi, dan sportivitas yang membawa kesan mendalam bagi seluruh peserta. Penutupan Penuh Kebersamaan: Refleksi dan Ngeliwet Bareng Menjelang penutupan rangkaian kegiatan, mahasiswa dan para pembina mengadakan sesi refleksi bersama, membahas manfaat dan pelajaran dari kegiatan selama tiga hari tersebut—baik dalam aspek sosial, kedisiplinan, kekompakan, maupun spiritual. Kegiatan kemudian diakhiri dengan suasana hangat melalui ngeliwet bersama. Para mahasiswa duduk melingkar, menikmati hidangan nasi liwet, lauk tradisional, dan berbagi cerita ringan yang menambah rasa kebersamaan.Momen santai ini menjadi penutup yang manis sekaligus menguatkan rasa persaudaraan di antara seluruh mahasiswa Ma’had Huda Islami.

Kegiatan Mahasiswa – Laporan Perolehan Dana Galang Donasi Sumatra

Laporan Perolehan Dana Galang Donasi Sumatra Manajemen Beasiswa Pendidikan Islam menyampaikan laporan informasi keuangan atas kegiatan galang donasi kemanusiaan untuk korban bencana di wilayah Sumatra yang telah dilaksanakan oleh para mahasiswa di berbagai titik strategis. Kegiatan galang donasi tersebut dilaksanakan selama dua hari, yakni pada Selasa hingga Rabu, 9–10 Desember 2025, dengan melibatkan mahasiswa  yang turun langsung ke lapangan untuk menghimpun dukungan dan kepedulian masyarakat terhadap para korban bencana. Berdasarkan hasil penghitungan dan pendataan internal, dana yang diperoleh dari kegiatan galang donasi tersebut bersumber dari partisipasi masyarakat umum yang dengan penuh kepedulian dan keikhlasan menyisihkan sebagian rezekinya melalui keropak donasi yang dibawa oleh mahasiswa selama kegiatan berlangsung. Seluruh dana yang terkumpul telah dicatat secara transparan oleh tim keuangan kegiatan, disertai dengan dokumentasi dan berita acara penghitungan, guna memastikan akuntabilitas serta kepercayaan publik terhadap pengelolaan donasi yang dihimpun. Manajemen Beasiswa Pendidikan Islam menegaskan bahwa dana hasil galang donasi ini diperuntukkan sepenuhnya bagi kepentingan kemanusiaan, khususnya untuk membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Sumatra, baik dalam bentuk bantuan kebutuhan pokok maupun dukungan pemulihan pascabencana. Dengan adanya laporan ini, manajemen mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat dan donatur, serta mengapresiasi peran Mahasiswa yang gigih dan penuh dedikasi dalam mendukung kelancaran kegiatan galang donasi. Semoga seluruh kebaikan yang diberikan dicatat sebagai amal kebajikan dan mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT. DONASI UNTUK KORBAN BENCANA SUMATERA & ACEH MAHASISWA/SANTRI HASMI 9 & 10 DESEMBER 2025 Sumber Donasi Jumlah Donasi (Rp) Ma’had Takrimul Qur’an 31.589.000 Ma’had Imam Bukhori 14.254.000 Ma’had Imam Nawawi 36.500.000 Ma’had Riyadhussholihin 13.372.300 Ma’had Huda Islami 40.458.000 Ma’had Az-Zuman 22.284.000 QRIS 4.678.000 TOTAL DONASI 163.135.300