Beasiswa Pendidikan Islam

Allah Maha Kaya

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ … فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّار. Kaum muslimin…. Alloh  berfirman يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ “Wahai manusia, kalian itu faqir; sangat butuh kepada Alloh; sedangkan Alloh Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15) Ayat yang mulia ini mengingatkan kita, bahwa Alloh swt Al-Ghoniy; Maha Kaya. Kekayaan yang benar-benar tidak terbatas dan kekayaan yang meliputi semua ada di langit dan di bumi. لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ “Kepunyaan Alloh-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Alloh benar benar Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (al-Hajj: 64) Kekayaan Alloh  tidak akan berkurang apalagi hilang, meskipun semua permintaan hamba-hamba-Nya dikabulkan semuanya… hal ditegaskan langsung oleh Alloh  dalam hadits Qudsi, يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ, مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ “Wahai hamba-Ku, seandainya manusia dan jin, dari yang pertama hingga yang terakhir, mereka berkumpul pada satu tempat, lalu semuanya berdoa dan meminta kepada-Ku, lalu Ku-kabulkan permintaannya masing-masing, yang demikian itu, sama sekali tidak mengurangi apa yang ada pada sisi-Ku kecuali hanya seperti jarum yang dicelupkan ke dalam lautan.” (Sahih, HR. Muslim) Rosululloh juga telah bersabda: يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لاَ تَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، وَقَالَ: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ “Tangan Alloh selalu penuh. Kekayaan-Nya tidak pernah berkurang meskipun Alloh selalu memberi, malam dan siang, kepada seluruh makhluk. Coba kalian perhatikan, sudah berapa banyak pemberian Alloh kepada para makhluk-Nya sejak diciptakan langit dan bumi… itu semua sama sekali tidak mengurangi apa yang ada di tangan-Nya” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim) Kaum muslimin… Alloh  Maha kaya, Maha Kaya yang sama sekali tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya… bahkan peribadahan yang kita tujukan untuk-Nya pun, sama sekali bukan untuk kepentingan Alloh… semua peribadahan yang kita lakukan adalah untuk kepentingan kita sendiri. Alloh Azza wa Jalla berfirman: وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ “Rabbmu Maha Kaya yang mempunyai sifat kasih sayang. [al-An’am/ 6:133] Imam Syaukani rahimahulloh mengatakan: Bahwa Alloh Azza wa Jalla Maha kaya terhadap makhluk-Nya. Dia tidak membutuhkan mereka dan tidak pula membutuhkan ibadah mereka. Iman mereka tidak memberi manfaat apapun kepada Alloh Azza wa Jalla dan kekafiran mereka juga tidak mendatangkan madharat apapun kepada-Nya. Ini senada dengan sabda Rosululloh saw dalam hadits qudsi, bahwa Alloh Azza wa Jalla berfirman: “Wahai hamba-Ku.. Seandainya manusia dan Jin, dari yang pertama hingga yang terakhir, semuanya menjadi bertakwa.., itu sama sekali tidak menambahkan kekuasaan-Ku sedikitpun. Wahai para hambaKu! Seandainya manusia dan Jin, dari yang pertama hingga yang terakhir, semuanya menjadi penjahat.., itu sama sekali tidak mengurangi kekuasaan-Ku sedikitpun.” [Hadits Qudsi Shahih Riwayat Imam Muslim]. Kaum muslimin… Alloh  benar-benar Maha Kaya… Maha Kaya yang selalu berbuat baik, pemurah dan selalu melimpahkan pemberian-Nya kepada semua makhluk-Nya. Pemberian-Nya terus mengalir dalam setiap waku dan keadaan… Alloh  telah menjamin rizki setiap makhluk yang ada di muka bumi ini… وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا “Tidak ada satupun makhluk yang hidup di muka bumi melainkan Alloh telah menjamin rezkinya.” (Huud: 6). Alloh-lah yang telah memberikan kekayaan dan kecukupan kepada kepada kita semua.. وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَىٰ وَأَقْنَىٰ “Sesungguhnya Dialah Alloh, yang memberikan kekayaan dan kecukupan.” [an-Najm/53:48] Karena itu siapa yang ingin dicukupkan kehidupannya dan dimudahkan segala urusannya, maka teruslah berdoa dan meminta kepada Alloh yang Maha Kaya… Apa saja yang kita butuhkan dalam kehidupan kita, jangan ragu untuk senantiasa memohon, meminta kepada Alloh …. Alloh Ta’ala telah berfirman: ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Berdoalah kepadaKu, pasti akan Aku kabulkan doa kalian…” (QS. Ghafir: 60). Jangan sekali-kali kita berharap, memohon dan meminta kepada makhluk… karena.. itu hanya akan menghasilkan kekecewaan, mereka tidak akan mungkin mampu memenuhi segala kebutuhan kita. Hanya Alloh Azza wa Jalla, al-Ghaniy, yang Maha Kaya dan memenuhi segala kebutuhannya. Jangan mengambil jalan-jalan yang haram untuk meraup kekayaan, seperti halnya praktek riba, mencuri, menipu dan korupsi… itu semua tidak akan bisa mendatagkan kebaikan sama sekali… Jangan meninggalkan jalan-jalan ketakwaan dan jalan perjuangan dakwah hanya demi keuntungan dunia yang sementara… Alloh Maha Kaya, Maha Pemberi kekayaan dan kecukupan di manapun kita berada dan di manapun kita bekerja… Rezeki kita sudah diatur dan sudah ditentukan. Kita berikhtiar, rezekinya sudah diatur oleh Alloh …. Nabi shallAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ “Alloh telah mencatat takdir setiap makhluk, 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim اقول قولي هذا…. KHUTBAH II الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.. Kaum muslimin rohimakumulloh… Alloh  Al-Ghoniy; Maha Kaya… jangan ragukan kekayaan dan pemberian-Nya yang terus mengalir kepada kita, bergantunglah dan bertawakkal kepada Alloh Azza wa Jalla, jalani kehidupan ini dengan ketenangan dan ketenteraman. Tetaplah fokus dalam taat kepada Alloh  dan dalam berjuang membela agama-Nya… Ingatlah selalu pesan Rosululloh saw: مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، “Barangsiapa yang akhirat menjadi obsesinya, maka Alloh akan mengkayakannya, melancarkan semua urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.  وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ “Siapa yang menjadikan dunia

Kenali Allah disetiap Kondisi

  إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …   Ma’āsyiral Muslimīn rahimakumullāh… Alloh swt berfirman dalam surat Fushshilat ayat 51: وَاِذَآ اَنْعَمْنَا عَلَى الْاِنْسَانِ اَعْرَضَ وَنَاٰ بِجَانِبِهٖۚ وَاِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُوْ دُعَاۤءٍ عَرِيْضٍ “Apabila Kami berikan nikmat kepada manusia (seperti kekayaan dan Kesehatan), ia berpaling dan menjauhkan diri. Namun apabila ia ditimpa kesusahan (seperti kemiskinan dan penyakit), barulah ia berdoa dengan doa yang panjang.” Ayat ini menggambarkan sifat manusia yang mudah lupa diri. Ketika sehat, kaya, dan hidup terasa mudah, ia acuh terhadap Rabb-nya. Namun saat musibah datang, barulah ia menghiba dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Ini adalah sifat tercela—menjadi hamba yang hanya mengingat Alloh ketika terjepit, namun melupakannya saat lapang. Ma’āsyiral Muslimīn rahimakumullāh… terkait hal ini, Rosululloh saw juga pernah berpesan: تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ “Kenalilah Alloh di waktu lapang, niscaya Alloh akan mengenalmu di waktu sempit.” (HR. At-Tirmidzi) Dalam hadis yang mulia ini, Rasulullah ﷺ mengingatkan kita bahwa di saat hidup sedang mudah dan lapang, di saat badan sehat, rezeki cukup dan masalah belum datang, hendaklah kita mengenal Alloh dengan cara bertakwa kepada-Nya, memperbanyak ibadah, dan tidak lalai dari ketaatan. Jika kita menjaga hubungan dengan Alloh di masa tenang, niscaya Dia tidak akan meninggalkan kita, Alloh akan menjaga kita di masa-masa sulit, di waktu sakit, tua, atau dalam kesempitan hidup. Jangan sampai kita menjadi hamba yang hanya mengingat Alloh ketika sedang berada dalam kesulitan saja. Ini adalah sifat orang-orang musyrik zaman dahulu, yang baru mau menyebut nama Alloh ketika bahaya datang menghampiri mereka. Alloh Ta‘ālā berfirman: وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا “Apabila kalian ditimpa bahaya di lautan, tiba-tiba tidak terlintas di benak kalian Tuhan-Tuhan yang biasa kalian memohon kepadanya. Justru yang ada di benak kalian hanyalah Alloh. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kalian sampai ke daratan, kalian pun berpaling lagi. Dan manusia itu memang sangat tidak bersyukur.” (QS. Al-Isrā’: 67) Di dalam ayat yang lain, Alloh Ta’ala berfirman, فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ “apabila mereka naik kapal lalu terancam bahaya, mereka berdoa dengan tulus hanya kepada Alloh. Namun ketika Alloh menyelamatkan mereka sampai ke darat, mereka pun berbuat syirik kembali.” (QS. Al-‘Ankabut: 65) Kedua ayat yang mulia ini lagi-lagi menunjukkan kepada kita betapa tercelanya orang-orang yang hanya mengenal dan mengingat Alloh ketika berada dalam keadaan susah dan sempit saja, sedangkan ketika dalam keadaan lapang, mereka justru berpaling, lalai, sibuk dalam kesenangan dunia, dan tidak menghadap kepada Alloh sama sekali, seakan tak mengenal Alloh… Jama’ah Jumat yang dirahmati Alloh… Mari kita bercermin kepada Nabi Dawud ‘alaihis salam. Beliau adalah seorang nabi sekaligus seorang raja—seorang pemimpin dengan kekuasaan yang luas dan kedudukan yang tinggi. Namun meskipun memiliki segalanya, beliau tidaki lupa kepada Alloh…beliau tetap sangat tekun dalam beribadah. Sampai-sampai Rasulullah saw bersabda: أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ، وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ، وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَيَصُومُ يَوْمًا، وَيُفْطِرُ يَوْمًا “Sholat yang paling dicintai Alloh adalah sholat Nabi Dawud, dan puasa yang paling dicintai Alloh adalah puasanya Nabi Dawud. Beliau tidur separuh malam, lalu bangun untuk shalat selama sepertiga malam, dan tidur lagi seperenamnya. Beliau juga berpuasa selang-seling—sehari puasa, sehari tidak.”(HR. Bukhari dan Muslim) Lihatlah, meskipun beliau seorang raja, kekuasaan dan kekayaan tidak membuatnya lalai dari ibadah kepada Alloh Ta’ala. Bahkan di tengah kesibukan dan kelapangan yang beliau miliki, beliau justru semakin dekat kepada Alloh, dengan memperbanyak sholat malam dan puasa sunnah. Inilah teladan sejati bagi orang-orang yang diberikan kenikmatan dunia: semakin banyak nikmat yang Alloh berikan, seharusnya semakin banyak pula rasa syukur dan amal sholeh yang dilakukan. Karena itu, Alloh Ta’ala berfirman kepada keluarga Nabi Dawud: اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ “Wahai keluarga Dawud, beramAlloh sebagai tanda syukur (kepada Alloh). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur.” (QS. Saba’: 13) بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ KHUTBAH II الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.. Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh… Ibnu ‘Abbas radhiyAllohu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallAlloh ‘alaihi wa sallam bersabda, اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara:  (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al-Hakim) Oleh karena itu, hendaknya kita mengingat dan mengenal Alloh dengan banyak beribadah di waktu mudamu, di waktu sehatmu, di waktu kayamu, di waktu luangmu dan di waktu hidupmu… niscaya Alloh akan mengenalmu dan menjagamu di waktu tuamu, di waktu sakitmu, di waktu butuhmu, di waktu sibukmu dan di waktu matimu… Semoga kita termasuk hamba yang bersyukur, yang mengenal Alloh di setiap keadaan—baik dalam lapang maupun sempit. Semoga Alloh menjadikan kita hamba yang selalu istiqamah dalam ketaatan, dan tidak hanya mencari-Nya saat terjepit.  

UJIAN TAHAP 2 MAHASISWA BEASISWA PENDIDIKAN ISLAM

Bogor, 27 September 2024- Mahasiswa Program Beasiswa Pendidikan Islam yang terdiri dari mahasiswa kampus MHI Bogor, Mariyas Cianjur, MHI Bandung, dan Ma’had Ma’had Az-zuman klaten telah menyelengarakan kewajiban dari bagian kurikulum yakni ujian tahap 2. Hal ini ujian kuliah merupakan prosedur evalusi untuk mahasiswa yang dilaksanakan selama periode tertentu. Ini bertujuan untuk menilai pemahaman dan penguasaan materi yang diajarkan selama suatu periode perkuliahan. Ujian yang diselengarakan oleh mahasiswa beasiswa pendidikan islam, merupakan ujian pondok diluar dari ujian kampus yang biasanya dilakukan setiap per-semester, bedahalnya dengan ujian Ma’had yang dilakukan atau penghitungan periodenya setiap satu bulan setegah

KEGIATAN BINTARA (BINA MENTAL & RAGA) MA’HAD TAKRIMUL QUR’AN MEGAMENDUNG

Selasa-Rabu 17-18 September 2024 Kegiatan rutinitas mahasiswa beasiswa pendidikan islam salah satunya merupakan bintara (Bina Mental dan Raga) kegiatan ini dilakukan setiap bulanya atau setiap tahap pembelajaran, bintara ini dilaksanakan di arena terbuka (Outdoor) kegiatan ini bertujuan salahsatunya seperti nama kegiatan itu sendidri, yakni membina mental, raga, melatih kerjasama, kedisiplinan serta menumbuhkan rasa kekeluargaan antara sesama mahasiswa dan para pembimbing serta asatidzah (Dosen-dosen) Kegiatan bintara yang baru saja dilakukan pada tanggal 17-18 September 2024 tepatnya pada hari selasa dan rabu, bertempat curug cilember megamendung bogor. Kegiatan ini dimulai pada selasa pagi sampai rabu siang, untuk kegiatan bintara kali ini di ikuti mahasiswa MATAQU (Ma’had Takrimul qur’an) Bogor. Macam-macam kegiatan yang dilakukan mahasiwa MATAQU (Ma’had Takrimul qur’an) selama bintara dimulai dari jalan sehat, tasji da’wi (Tausyiah Motivasi), makan siang bersama, kegiatan outbond, dilanjut makan bersama diiringi dengan penyalaan api unggun.

Membentuk Keluarga Islami : Kiat-Kiat dan Pedoman

Keluarga Islami memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang baik. Fondasi keluarga yang kuat akan menciptakan individu yang berakhlak mulia dan bertakwa kepada Allah. Dalam Islam, terdapat kiat-kiat dan pedoman yang dapat membantu membentuk keluarga yang Islami. Mari kita simak beberapa kiat berdasarkan ajaran Islam: Dengan mengikuti kiat-kiat di atas, diharapkan setiap keluarga dapat membentuk lingkungan yang Islami, penuh berkah, dan mendapatkan ridha Allah SWT. Mari kita jadikan keluarga sebagai lembaga pertama untuk menciptakan perubahan positif dalam masyarakat.

KEHIDUPAN BANGSA ARAB SEBELUM KELAHIRAN NABI MUHAMMAD

Kehidupan Bangsa Arab Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad – Sebelum kedatangan Islam, penduduk yang mendiami wilayah Arab dikenal sebagai masyarakat Arab Jahiliyah atau bangsa Jahiliyah. Terdapat kesenjangan antara kaum bangsawan dan masyarakat biasa, di mana kaum bangsawan menjadi terpandang dan memiliki otoritas yang lebih. Berikut uraian kehidupan Bangsa Arab Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. KONDISI BANGSA ARAB Dari sisi agama: pada awalnya bangsa Arab mengikuti agama Nabi Ibrohim alaihisalam, yaitu ajaran Tauhid untuk beribadah hanya kepada Alloh ﷻ. Namun setelah waktu berjalan sekian lama, mereka melalaikan hal tersebut, meskipun masih ada sisa-sisa peninggalan ajaran tauhid tersebut. Suatu ketika ‘Amr bin Luhay, salah seorang tokoh Makkah dari suku Khuza’ah pergi ke Syam dan melihat di sana masyarakatnya menyembah berhala sebagai bentuk ibadah dan ia pun menyimpulkan bahwa itu perbuatan baik. Sehingga saat kembali ke Makkah, ia membawa satu berhala dan diletakkan di dalam Ka’bah. Lalu ia mengajak masyarakatnya untuk menyembah berhala dan masyarakat pun ikut menyembah berhala sampai menjadi keyakinan tersendiri penduduk Makkah saat itu. Kemudian dengan cepat menyebar ke wilayah Hijaz (Makkah dan sekitarnya), sehingga menyebar luas di Jazirah Arabia. Bahkan di sekitar Ka’bah ada ratusan patung yang disembah. Dari sanalah muncul berbagai praktek kesyirikan, bid’ah dan khurofat. Kehidupan sosial masyarakat Arab berkelas dan bersuku-suku, sangat kontras perbedaan antara kaum bangsawan dengan segala kemewahan dan kehormatannya dan kaum budak dengan segala kekurangan dan kehinaannya. Kehidupan antar suku pun penuh persaingan dan sering berakibat pertikaian karena fanatisme kesukuan, tak peduli dalam posisi benar atau salah. Sehingga terkenal ucapan mereka, “Bantulah saudaramu, baik dia berbuat zolim maupun dizolimi”. Sisi politik: kekuasan yang berlaku pada saat itu adalah sistem diktator. Rakyat banyak semakin terpuruk dan banyak sekali mengalami kedzaliman. Mereka hanya bisa merintih dan mengeluh. Tidak hanya berhenti di situ saja, bahkan mereka masih harus menahan rasa lapar, ditekan dan mendapat berbagai macam penyiksaan dengan sikap diam, tanpa mengadakan perlawanan sedikitpun. Sisi ekonomi: Masyarakat Arab adalah masyarakat pedagang. Sebagian kecil penduduk pinggir negeri yang hidup dengan bertani dan memerihara hewan ternak. Mereka belum mengenal dunia perindustrian. Hasil-hasil produksi, biasanya mereka dapatkan dari negeri Yaman atau negeri Syam. Kemiskinan mewarnai kehidupan masyarakat, meskipun ada sejumlah pedagang besar dan bangsawan. Sisi akhlak terpuji: Bangsa Arab, masih memiliki beberapa akhlak terpuji walau kadang ditampilkan dengan cara yang salah. Di antaranya adalah kedermawanan, memenuhi janji, menjaga kemuliaan jiwa dan pantang dihina, pemberani, lemah lembut, suka menolong dan sederhana. (Kehidupan Bangsa Arab Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad) KELAHIRAN DAN MASA PERTUMBUHAN NABI MUHAMMAD Rosululloh ﷺ dilahirkan pada hari senin pagi, 9 Robi’ul awwal tahun gajah. Bertepatan tanggal 20 atau 22 April 571 M. Nabi Muhammad ﷺ lahir di rumah bangsa Arab yang paling mulia. Beliau adalah salah seorang keturunan terhormat Quraisy, yaitu bani Hasyim. Quraisy adalah kabilah yang paling disegani di Arab dan diakui kesucian nasab serta keluhuran derajatnya. Ayah Beliau bernama Abdullah, Ibunya bernama Aminah. Namun Beliau besar dalam keadaan yatim karena ayahnya  meninggal dunia yang bertepatan ketika ibunya hamil dua bulan saat mengandungnya. Adapun ibundanya meninggal dunia ketika Nabi ﷺ memasuki umur enam tahun. Setelah melahirkannya, sang Ibu membawanya kepada kakeknya Abdul Mutthalib. Kemudian diberi nama Muhammad; nama yang belum dikenal di masyarakat Arab pada saat itu. Kemudian sebagaimana ada masyarakat perkotaan pada saat itu, sang Ibu pun mencari wanita pedesaan untuk menyusui putranya. Namun ketika ditawarkan kepada Halimah as-Sa’diyah ia menolakya, karena putra tersebut adalah anak yatim sehingga tidak bisa diharapkan mendapat imbalan yang layak. Akan tetapi ketika Halimah tidak mendapatkan bayi yang akan disusuinya, akhirnya ia pun menerima untuk menyusui nabi Muhammad ﷺ. Maka setelah itu, kehidupan Halimah as-Sa’diyah penuh dengan keberkahan karena telah menyusui manusia yang telah disiapkan Alloh untuk menjadi manusia paling agung di bumi. Pada saat Beliau berusia 5 tahun dan masih dalam perawatan Halimah as-Sa’diyah, terjadilah peristiwa besar yang menunjukkan tanda kenabiannya. Peristiwa tersebut dikenal dengan istilah pembelahan dada (Syaqqus Shodr). Suatu hari, ketika Beliau sedang bermain dengan teman-temannya, tiba-tiba malaikat Jibril menghampirinya dan menyergapnya. Lalu Beliau dibaringkan dan dibelah dadanya. Lalu hatinya diambil, selanjutnya dikeluarkan segumpal darah darinya, seraya berkata, “Inilah bagian setan yang ada padamu.” Kemudian hati tersebut dicuci di bejana emas menggunakan air zam-zam, setelah itu dikembalikan ke tempat semula. Sementara teman-temannya melaporkan kepada Halimah seraya berkata, “Muhammad dibunuh… Muhammad dibunuh..” mereka pun bergegas mendatangi tempat Rosululloh ﷺ, di sana mereka mendapati Rosululloh ﷺ dalam keadaan pucat pasi. Setelah kejadian tersebut, Halimah merasa khawatir sehingga memulangkannya kepada Ibnunya di Makkah dengan berat hati. Pada usia 6 tahun, Ibunya meninggal dunia yang kemudian diasuh oleh sang kakek Abdul Muttholib. Keistimewaan Nabi telah diketahui sejak kecil. Tanda-tanda kecerdasan memancar dari wajah Beliau sehingga menarik rasa cinta setiap orang yang melihatnya. Jika Rosululloh ﷺ datang, Beliau langsung duduk di tempat tidur kakeknya. Padahal jika kekeknya Abdul Muthalib duduk di tempat tersebut, tidak seorang pun putra kakeknya itu (paman Rosul) boleh duduk bersamanya. Ketika para pamannya berusaha memindahkan Beliau dari tempat itu, sang kakek pun melarangnya dan berkata, “Biarkan cucuku ini, demi Alloh ia memiliki kedudukan istimewa.” Sang kakek meninggal dunia pada saat Rosululloh ﷺ berusia 8 tahun. Kemudian Beliau diasuh oleh pamannya; Abu Tholib. Beliau sangat disayang oleh pamannya tersebut, bahkan pamannya selalu berada di sisi Rosululloh ﷺ, merawatnya, melindunginya dan membelanya. Bahkan hingga Beliau telah diangkat menjadi Rosululloh. (Kehidupan Bangsa Arab Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad) KEHIDUPAN BANGSA ARAB SEBELUM KELAHIRAN NABI MUHAMMAD