Dalam perjalanan sejarah umat terdahulu, terdapat banyak kisah yang menunjukkan bagaimana iman, tauhid, dan kebenaran akan selalu diuji. Salah satu kisah yang agung dan penuh pelajaran adalah kisah seorang pemuda beriman di masa seorang raja zalim, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits shahih Rasulullah ﷺ. Kisah ini menggambarkan bagaimana Allah ﷻ menolong hamba-Nya yang beriman, sekaligus membuka pintu hidayah dan taubat bagi manusia melalui pengorbanan orang-orang shalih.
Dikisahkan, pada zaman dahulu ada seorang raja yang memiliki seorang tukang sihir sebagai penasihat. Ketika tukang sihir itu telah lanjut usia, ia meminta agar disiapkan seorang pemuda untuk menjadi penerusnya. Pemuda tersebut pun mulai belajar sihir darinya. Namun, dalam perjalanannya menuju tempat tukang sihir, ia bertemu dengan seorang ahli ibadah yang berilmu dan lurus aqidahnya. Pemuda itu pun tertarik dan mulai belajar agama darinya, hingga ia memperoleh cahaya iman dan tauhid.
Suatu hari, pemuda itu menyaksikan seekor binatang buas yang menghalangi jalan manusia. Ia pun berdoa, “Ya Allah, jika ahli ibadah itu lebih Engkau cintai daripada tukang sihir, maka binasakanlah binatang ini agar manusia dapat lewat.” Dengan izin Allah, batu yang ia lemparkan berhasil membunuh binatang buas tersebut. Peristiwa itu menjadi tanda kebenaran iman dan doa yang ikhlas.
Ahli ibadah itu pun berkata, “Wahai anakku, engkau hari ini telah lebih utama dariku. Namun, ketahuilah, engkau akan menghadapi ujian yang berat. Jika engkau diuji, janganlah engkau menunjukkan keberadaanku.” Nasihat ini menjadi isyarat bahwa jalan kebenaran tidak pernah lepas dari ujian.
Dengan izin Allah ﷻ, pemuda itu kemudian diberi kemampuan untuk menyembuhkan orang buta dan berbagai penyakit. Ketika seorang sahabat raja yang buta mendatanginya meminta kesembuhan, pemuda itu menegaskan bahwa kesembuhan bukan berasal darinya, melainkan dari Allah semata. Ia berkata, “Jika engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada-Nya agar engkau disembuhkan.” Orang itu pun beriman, dan Allah menyembuhkannya.
Ketika raja mengetahui hal tersebut, ia murka dan berkata, “Siapa yang menyembuhkanmu?” Orang itu menjawab dengan tegas, “Tuhanku.” Raja berkata, “Apakah engkau memiliki tuhan selain aku?” Ia menjawab, “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Raja pun menyiksanya hingga akhirnya ia menunjukkan keberadaan pemuda tersebut.
Pemuda itu ditangkap dan disiksa. Raja berkata, “Engkau bisa menyembuhkan orang buta dan berbagai penyakit dengan sihirmu.” Pemuda itu menjawab, “Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah.” Raja semakin murka dan memaksa pemuda itu menunjukkan keberadaan ahli ibadah. Ketika ahli ibadah itu ditangkap dan diminta meninggalkan agamanya, ia menolak, lalu raja membunuhnya dengan kejam. Demikian pula sahabat raja yang telah beriman.
Setelah itu, pemuda tersebut kembali dipaksa meninggalkan agamanya. Namun ia tetap teguh. Raja memerintahkan agar pemuda itu dibawa ke puncak gunung dan dilemparkan jika tidak mau meninggalkan imannya. Pemuda itu berdoa, “Ya Allah, lindungilah aku dari kejahatan mereka sesuai kehendak-Mu.” Maka gunung berguncang dan para prajurit raja binasa, sementara pemuda itu selamat. Hal yang sama terjadi ketika ia dibawa ke tengah laut; Allah menyelamatkannya dan menenggelamkan para prajurit.
Akhirnya pemuda itu berkata kepada raja, “Engkau tidak akan mampu membunuhku hingga engkau melakukan apa yang aku perintahkan.” Ia meminta agar raja mengumpulkan seluruh rakyat, mengikatnya di sebuah batang pohon, lalu mengambil anak panah dan mengucapkan, “Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.” Raja pun melakukannya. Anak panah tersebut menancap di pelipis pemuda itu hingga ia wafat.
Melihat peristiwa tersebut, orang-orang pun berkata, “Kami beriman kepada Tuhan pemuda itu.” Keimanan itu membuat raja semakin murka hingga ia memerintahkan dibuatkan parit-parit berisi api untuk membakar orang-orang yang beriman.
Kisah ini diriwayatkan dalam hadits shahih Rasulullah ﷺ:
«كَانَ مَلِكٌ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، وَكَانَ لَهُ سَاحِرٌ…»
(HR. Muslim)
Allah ﷻ mengabadikan peristiwa tragis ini dalam Al-Qur’an:
قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ
“Binasalah orang-orang yang membuat parit, (yaitu) api yang penuh dengan bahan bakar.”
(QS. Al-Burūj: 4–5)
Kisah ini mengajarkan bahwa jalan iman dan taubat sering kali diiringi dengan ujian berat. Namun, keteguhan tauhid, kejujuran dalam iman, dan pengorbanan di jalan Allah ﷻ dapat menjadi sebab tersebarnya hidayah bagi banyak orang. Bagi mahasiswa, santri, dan seluruh penerima manfaat Beasiswa Pendidikan Islam, kisah ini menjadi pengingat bahwa menuntut ilmu, menjaga aqidah, dan istiqamah dalam kebenaran adalah bagian dari perjuangan yang bernilai tinggi di sisi Allah.
Semoga kisah ini menguatkan iman, menumbuhkan keberanian dalam memegang kebenaran, serta mendorong setiap jiwa untuk selalu kembali kepada Allah ﷻ dengan taubat yang tulus dan keyakinan yang kokoh.