Islam adalah agama rahmat yang membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi setiap hamba yang ingin kembali kepada Allah ﷻ dengan taubat yang sungguh-sungguh. Salah satu kisah yang paling menyentuh dan sarat pelajaran tentang taubat, hijrah, serta pentingnya ilmu adalah kisah seorang laki-laki yang telah membunuh seratus jiwa, sebagaimana diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah ﷺ.
Dikisahkan, pada zaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Hatinya kemudian tersentuh untuk bertaubat, lalu ia mencari orang yang dianggap berilmu untuk menanyakan apakah masih ada kesempatan baginya untuk kembali kepada Allah. Ia pun ditunjukkan kepada seorang ahli ibadah (rahib) yang dikenal rajin beribadah, namun minim ilmu. Kepada rahib tersebut, laki-laki itu mengakui perbuatannya dan bertanya, “Apakah masih ada taubat bagiku?” Sang rahib menjawab dengan tergesa-gesa, “Tidak. Taubatmu tidak akan diterima.” Mendengar jawaban tersebut, laki-laki itu semakin gelap hatinya dan akhirnya membunuh sang rahib, sehingga genaplah seratus orang yang telah ia bunuh.
Setelah itu, ia kembali mencari seseorang yang benar-benar berilmu. Hingga akhirnya ia ditunjukkan kepada seorang alim yang memiliki pemahaman agama yang lurus. Kepadanya, laki-laki itu berkata, “Aku telah membunuh seratus orang. Apakah masih ada taubat bagiku?” Orang alim tersebut menjawab dengan penuh hikmah, “Ya, taubatmu akan diterima. Tidak ada satu pun penghalang antara dirimu dan taubat.” Namun sang alim menambahkan nasihat penting, “Pergilah engkau ke negeri tertentu, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah. Beribadahlah engkau bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu yang dahulu, karena negeri itu adalah lingkungan yang buruk.”
Laki-laki itu pun berangkat untuk berhijrah menuju negeri yang ditunjukkan. Namun, dengan izin Allah ﷻ, ia meninggal dunia di tengah perjalanan sebelum sampai ke tempat tujuannya. Ketika ruhnya hendak dicabut, datanglah malaikat rahmat dan malaikat azab. Keduanya pun saling berbantahan. Malaikat rahmat berkata, “Ia telah datang dengan hati yang bertaubat dan berniat hijrah menuju negeri yang baik.” Malaikat azab berkata, “Namun ia belum melakukan satu amal kebaikan pun.”
Kemudian Allah ﷻ mengutus seorang malaikat untuk menjadi penengah. Malaikat itu berkata, “Ukurlah jarak antara tempat ia meninggal dengan negeri asalnya dan dengan negeri tujuannya. Kepada yang lebih dekat, maka ia termasuk penghuninya.” Setelah diukur, ternyata jarak tempat meninggalnya lebih dekat ke negeri tujuan hijrahnya. Maka diputuskanlah bahwa ruhnya diserahkan kepada malaikat rahmat.
Kisah agung ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda:
«كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ…»
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa luasnya rahmat dan ampunan Allah ﷻ bagi hamba-Nya yang benar-benar ingin bertaubat. Allah ﷻ berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Kisah ini juga memberikan pelajaran penting tentang keutamaan ilmu dan bahaya berfatwa tanpa ilmu. Seorang ahli ibadah yang tidak dibekali ilmu dapat terjatuh pada kesalahan fatal, bahkan menyesatkan orang lain. Sebaliknya, seorang alim yang berilmu mampu membuka pintu harapan, membimbing taubat, dan menunjukkan jalan hijrah yang benar.
Bagi mahasiswa, santri, dan seluruh penerima manfaat Beasiswa Pendidikan Islam, kisah ini menjadi pengingat bahwa menuntut ilmu adalah bagian penting dari ibadah. Ilmu membimbing amal, dan amal tanpa ilmu dapat menjerumuskan. Selain itu, kisah ini menegaskan bahwa siapa pun yang bertaubat dengan sungguh-sungguh dan berhijrah karena Allah, maka Allah ﷻ akan menyambutnya dengan rahmat dan ampunan yang luas.
Semoga kajian ini menumbuhkan optimisme dalam bertaubat, kesungguhan dalam berhijrah menuju kebaikan, serta semangat untuk terus menuntut ilmu sebagai bekal menggapai ridho Allah ﷻ.